International Street Soccer Championship? Wow.
Sewaktu ada tawaran untuk jadi LO (Liaison Officer) di acara ini jujur saja aku tidak ada ide sama sekali. Pertama, tugas LO itu apa? Tapi karena ingin mencari pengalaman di acara internasional dan juga bareng-bareng dan atas nama Polyglot Indonesia aku memberanikan diri untuk ikut. Ketika list negara yang ikut berpartisipasi keluar semakin bingung lagi. Harus pilih yang mana nih? (karena negara preference aku Jepang tapi tidak ada) Berdasarkan saran dari semua akhirnya aku pilih negara India. Kebetulan aku memang sedang belajar Hindi jadi ya hitung-hitung praktek lah.
Dari Polyglot Indonesia ada 7 orang volunteer. Aku, Zaza, Ebi, Ulum, Hafid, Vandro dan Deny. Kami semua ada dalam arahan Fajar yang menghubungkan Polyglot Indonesia dengan pihak Tafisa yang mengadakan acara ini. Kami sampai di Jakarta satu hari sebelum acara untuk briefing. Saat itu ada beberapa delegasi negara yang sudah sampai di hotel (aku ga inget negara mana aja). Briefing hanya dihadiri kami dari Polyglot Indonesia dan beberapa koordinator acara cabang olahraga Street Soccer. Ada beberapa ketidaksepakatan tapi segera teratasi berkat Fajar selaku koordinator kami disitu (love you Fajar hahaha).
Esok paginya kami akhirnya bertemu dengan LO yang sudah ditunjuk oleh Kemenpora untuk acara ini. Saat mendengar Kemenpora yang menunjuk mereka dan mengingat ini acara internasional jujur saja aku berekspektasi mereka sudah berpengalaman. Karena itu ketika bertemu dan mengobrol aku kaget dan agak tidak percaya ternyata mereka semua rata-rata mahasiswa dan masih hijau untuk acara seperti ini. Agak miris sih tapi aku masih berpikir positif mereka pasti sudah tau apa yang harus dikerjakan karena pasti sudah di briefing. Mau tidak mau karena Kemenpora sudah menyediakan LO untuk masing-masing negara (12 negara) kami dari Polyglot Indonesia dipasangkan dengan mereka sebagai backing untuk mensuport mereka. Meski sedikit menyimpang dari tujuan awal kami terima masih dengan berpikiran positif.
Di tengah sarapan tiba-tiba ada yang memanggil LO negara India agar segera berangkat menuju bandara untuk menjemput delegasi karena akan segera tiba. Masih agak kaget aku dan partnerku (Firsty) segera berangkat. Di airport kami harus menunggu sekitar satu jam lamanya karena ternyata saat kami meluncur dari hotel mereka baru saja take off dari Singapura. Setelah akhirnya bertemu 12 orang dari mereka ada beberapa masalah dengan LO bandara saat pengecekan dokumen. Menurut mereka data yang dibawa delegasi dan yang mereka pegang tidak sama. Padahal dengan data kami itu sama. Kami harus menunggu lagi satu jam lamanya sampai diperbolehkan menuju hotel. Saat mengobrol dengan delegasi aku tahu kalau ternyata seharusnya mereka sampai ke Jakarta kemarin malam. Karena tertinggal penerbangan mereka harus membeli tiket pesawat lagi dan menginap di bandara Singapura sampai tadi pagi dan tidak tidur sedikit pun. Mengingat begitu sampai di bandara mereka masih harus ditahan lagi agak sedih sebenernya tapi mereka hanya tersenyum dan bilang tidak apa-apa walau terlihat wajahnya lelah.
Kami sampai di hotel sekitar jam 12. Hari pertama adalah test field dan jadwal untuk tim India adalah jam 15.30 yang berlokasi di Ancol. Mereka hanya punya waktu sekitar satu setengah jam untuk beristirahat karena di jalan pasti macet dan akan memakan waktu mungkin sampai satu jam ke lokasi. Tidak masalah kata mereka, meski lelah tapi mereka semangat sekali karena akan test field. Terlihat saat mereka sudah berada di lapangan. Salut pada mereka. Tiga puluh menit test field selesai dan kami kembali ke hotel. Disitu masalah pertama muncul, menu makan malam.
Bagi orang India masakan kita terasa hambar karena mereka terbiasa makan masakan yang bumbunya sangat tajam. Banyak dari mereka yang tidak makan atau justru memaksakan makan menu makan malam tersebut. Mirisnya kami baru tahu itu esok paginya saat sedang mengobrol. Mereka tipe yang menerima apa yang diberi, tidak banyak protes, tidak bercerita kalau tidak ditanya. Mereka juga bilang kalau akhirnya beberapa dari mereka hanya makan pisang saja. Kami segera melaporkan ke pihak panitia tentang hal ini. Tapi entah karena mereka sibuk, atau kami salah memilih orang atau apa, keluhan ini tidak ditanggapi serius. Sudah berapa kali melapor pun tetap saja semua hanya teori, agak kesal juga pada tim panitia. Setelah itu aku memutuskan untuk bicara blak-blakan dengan semua tim India tentang kebiasaan disini dan juga beberapa perangai orang Indonesia. Tujuannya supaya mereka tidak terlalu kecewa ketika sesuatu tidak berjalan sesuai ekspektasi. Untungnya mereka mengerti dan seperti biasa senyum tidak pernah lepas dari wajah mereka, walau bagi aku itu tetap tidak adil bagi mereka. "It's okay, Piwi," entah berapa kali aku mendengar kata-kata ini dari mereka setiap harinya. Masalah makanan akhirnya terselesaikan dengan permintaan mereka yang hanya cukup meminta tambahan garam saja, tanpa mengubah menu. Tapi kasus ini hanya untuk makan malam saja. Untuk sarapan menunya selalu oke di lidah mereka, begitu juga makan siang.
Sejak mereka datang sampai hari kedua di pagi hari kami selalu mengobrol dengan bahasa Inggris. Sebenarnya sejak awal sudah gereget ingin mencoba memakai Hindi tapi grogi. Akhirnya saat sedang menunggu mobil untuk berangkat ke Ancol aku iseng-iseng bertanya. Kaget, bingung, sedikit panik, dan lucu juga, mungkin itu perasaan aku saat tahu ternyata mereka dari India bagian selatan tepatnya Chennai yang bahasanya Tamil dan bukan Hindi! Bagaikan sudah berjuang belajar bahasa Jawa tapi yang datang berbahasa Padang atau Minahasa hahahaha. Matilah aku. Untungnya mereka semua bisa berbahasa Inggris jadi tidak ada masalah dalam komunikasi. Setelah semakin dekat kami jadi semakin tertarik dengan bahasa masing-masing. Aku kaget ketika mereka tiba-tiba bilang "Sama-sama, Piwi," setelah aku berterima kasih. Lalu kami saling bertanya tentang bahasa masing-masing. Sejauh ini mereka hanya tahu Selamat Pagi, Siang, Malam, Terimakasih, dan Sama-sama. Sedangkan aku hanya Halo dan Terimakasih dalam Tamil. Berkat itu sekarang Tamil resmi masuk list bahasa yang akan aku pelajari. Segera!
Karena berbagai faktor jadwal pertandingan setiap harinya selalu sampai malam sebelumnya. Kami semua harus bersiap sejak pagi agar tidak terlambat. Bahkan sekali aku memberitahu mereka bahwa kita akan berangkat jam 9 padahal sebenarnya jam 10 karena ada perubahan jadwal. Ketika mereka akan turun untuk sarapan semua bertanya kapan kita berangkat? Aku bilang masih satu jam lagi dan kami pun tertawa bersama ketika mendengar alasan nya kenapa walau mereka merasa sedikit dikerjai. Ya karena sebelumnya pihak panitia selalu memburu-buru ketika sudah jamnya berangkat seakan itu sepenuhnya salah kami, padahal jadwalnya mendadak berubah di larut malam ketika tim sudah tidur. Karena itu aku meminta mereka untuk bersiap lebih awal dan bahkan mengetuk pintu kamar mereka paginya untuk membangunkan semua memastikan mereka bangun.
Yang sangat aku syukuri adalah semua tim India begitu pengertian dan tidak rewel. Meski mereka sesekali memiliki permintaan yang tidak bisa terpenuhi ketika dijelaskan mereka hanya tersenyum dan berkata tidak apa-apa. Malah pernah mereka yang meminta maaf karena merasa sudah merepotkan. Saat berkata begitu jujur aku terharu apalagi kata-kata mereka itu terlihat sekali jujur dan dari hati. Dengan semua hal yang terjadi diluar rencana dan kesepakatan, mereka masih sempat meminta maaf ketika seharusnya kamilah yang meminta maaf.
Dengan tim sebaik ini aku sering berpikir walau harus bekerja sendirian yang penting mereka terpenuhi kebutuhannya. Partnerku mungkin karena masih terbilang belum dewasa dan tidak biasa bekerja dibawah tekanan tidak jarang malah panik ketika ada masalah muncul atau sesuatu terjadi tiba-tiba dan diluar rencana. Mungkin karena dia yang seperti itu juga tim India lebih sering mengobrol dan curhat dengan aku dan bahkan sampai bercanda karena merasa lebih nyaman dan lebih dekat. Menurut Zaza kami dari Polyglot Indonesia yang sudah sering menghadapi dan mengatur meet-up yang tidak jarang ada masalah sudah terbiasa dengan hal-hal diluar rencana. Belum lagi yang sudah bekerja atau sudah pernah bekerja, tahu apa yang harus dilakukan dan mampu mengambil keputusan sendiri. Termasuk berkomunikasi dengan orang asing dan menjadikan mereka teman, jadi tidak aneh jika mereka lebih dekat dengan kami dibanding LO dari Kemenpora. Karena menjadikan mereka teman atau relasi sudah menjadi salah satu pekerjaan kami sebagai polyglot.
Dari semua hal yang terjadi di hari terakhir, acara jalan-jalan, hal konyol muncul lagi. Kami dijadwalkan pergi ke Taman Mini Indonesia Indah jam 10, kenyataannya mundur satu jam. Oke, itu masih wajar. Saat sudah di Taman Mini baru saja kami berkeliling selama satu jam lalu makan siang, rombongan ternyata dibawa ke titik wisata lain. Baru kali ini mendengar main ke Taman Mini hanya selama satu jam. Setelah itu menurut kabar kami akan dibawa ke Kota Tua, tetapi entah apa yang terjadi di tengah perjalanan rencana tersebut diganti menjadi ke Monas. Begitu sampai ternyata Monas tutup! Demi apa mereka tidak mengkoordinasikan hal itu dulu sebelumnya. Pada akhirnya rombongan dibawa ke Tamrin City agar bisa berbelanja, karena di hari-hari dimana ada pertandingan mereka tidak memiliki kesempatan untuk itu. Timku tidak banyak protes dan dengan senang hati melihat-lihat barang disana. Saat itu kami berpencar. Partnerku menemani Manajer tim dan putranya, sementara aku menemani para pemain dan pelatih. Kami diberi waktu sekitar 2 jam setengah untuk berkeliling. Mereka semua tidak ada yang memiliki rupiah saat itu. Berhubung malas mencari Money Changer dan juga karena keterbatasan waktu akhirnya mereka menukarkan dolar dan rupe mereka padaku. Karenanya dompetku penuh dengan mata uang asing dan kerepotan sendiri ketika aku membutuhkan rupiah hahaha. Tapi seru juga melihat isi dompetku yang dipenuhi mata uang asing.
Hari terakhir aku habiskan dengan mengobrol sebanyak mungkin bersama mereka sebelum harus kembali ke hotel. Sedikit saling curhat dan juga berbagi foto-foto selama 4 hari kami bersama. Ketika aku bilang bahwa tidak bisa mengantar mereka ke bandara karena harus segera kembali ke Bandung, sedangkan penerbangan pulang mereka masih tiga hari lagi, agak sedih juga. Dan di saat aku check out dan berpamitan pada mereka berasa agak berat. Padahal kami baru kenal selama empat hari tapi rasanya sudah bersama lebih lama dari itu. Kami bertukar cinderamata dan juga nomor kontak. Mereka menekankan bahwa kami harus tetap berkomunikasi meski sekarang harus berpisah. Beberapa diantara mereka berkata akan mengunjungi Indonesia lagi dan tepatnya Bandung dimana aku tinggal. Semua tidak ada yang mengatakan "Goodbye," melainkan, "See you in Chennai." Terharu lagi rasanya.
Meski banyak hal yang membuat geram dan juga kecewa dan tentunya lelah, tapi aku bersyukur ikut serta dalam acara ini. Mendapatkan pengalaman baru, teman baru dan juga ilmu baru. Hanya saja harapan dariku jika ada acara seperti ini lagi, khususnya acara internasional, lebih diperhatikan lagi segala aspeknya. Kita disini sebagai tuan rumah membawa nama negara ini, Indonesia. Yang kita layani pun membawa nama negara mereka. Baiknya hubungan antar negara seperti itu dijaga sebaik mungkin jangan sampai terjadi perselisihan. Terkadang masalah besar dimulai dari hal kecil dan remeh. Tingkatkan lagi kompetensi bangsa dan negara ini agar lebih dihormati lagi di kalangan dunia internasional.
Hidup Indonesia!
Hidup Polyglot Indonesia!
Comments
Post a Comment